Back
MUNAS XIII PKBSI : Kebun Binatang Profesional, Satwa Sejahtera
Author Susi
Friday, Nov 30, 2018 9:36 am
MUNAS XIII PKBSI : Kebun Binatang Profesional, Satwa Sejahtera

JAKARTA: Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) membangun bangsa melalui lembaga konservasi (LK) satwa. Untuk itu kualitas organisasi dan mutu LK dituntut terus ditingkatkan dan ditangani lebih profesional.

“Tuntutan zaman terus berkembang dan mewajibkan setiap kebun binatang/LK melaksanakan pengelolaan satwanya lebih profesional agar satwa semakin sejahtera,” kata Ketua Umum PKBSI, Rahmat Shah saat pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) ke 13 PKBSI di Putri Duyung Ancol, Jakarta, Senin (26/11/2018).

Pengelolaan yang lebih profesional itu, lanjutnya, mesti sesuai lima domain standar kesejahteraan satwa/animal welfare. Lima prinsip itu adalah: bebas dari rasa haus dan lapar; bebas dari rasa ketidaknyamanan atau penyiksaan fisik; bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit; bebas untuk mengekspresikan perilaku alamiah; bebas dari ketakutan dan rasa tertekan.  

Lima prinsip itu, katanya,  akan mengarah pada mutu genetik yang sehat dan sesuai standar pengelolaan yang ditetapkan. Kebun binatang yang tidak melaksanakan tentu akan mendapatkan konsekuensinya sendiri.

Dikemukakan, LK bukanlah peternakan, maka LK yang memiliki over populasi wajib memindahkan / menghibahkan / melakukan pertukaran satwa dengan LK yang bersedia menerima dan harus berani melepas satwanya dengan cara kerjasama. Hal ini dalam rangka menjaga kemurnian genetik.

“Untuk itu kerjasama antar LK harus terus ditingkatkan. Saya berharap LK yang besar seyogyanya membantu LK yang kecil. Begitu juga LK yang kecil jangan pernah berhenti belajar mengejar ketertinggalan,” ujar Rahmat.

Dia mengingatkan, secara global koleksi satwa merupakan cadangan saat alam membutuhkan. PKBSI bersama anggota telah membuktikan perannya dengan melakukan pelepasliaran berbagai jenis satwa.

“Kami juga menjalankan mandat LK dengan memenuhi segala kewajiban serta menerima/merawat satwa-satwa hasil sitaan yang dititipkan negara.”

Tanggung jawab

Dikemukakan, dunia perkebunbinatangan terus mengalami perubahan, seiring perkembangan dan tuntutan zaman. Isu perlakuan atau pengelolaan terhadap satwa di lembaga konservasi (LK) terus menjadi sorotan masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini secara langsung berdampak pada kinerja LK. Bahkan menyangkut citra bangsa dan negara.

“Saya mengingatkan kembali bahwa tanggungjawab kelestarian satwa ada di pundak kita bersama. Kita harus bersungguh-sungguh serta penuh tanggungjawab mengelola sumber daya alam kenanekaragaman hayati yang kita miliki,” kata pengelola Taman Hewan Pematang Siantar, Sumatra Utara ini.

Rahmat Shah mengharapkan, PKBSI  dapat bersinergi bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan (stakeholder) agar fokus mengelola dan membangun LK. Tentu saja LK sesuai standar yang sama dengan ketentuan.

Kerjasama antar lembaga konservasi, kata Rahmat, untuk saling berbagi informasi, ilmu pengetahuan dan pengalaman.  Selain itu diharapkan dapat terus ditingkatkan guna kesetaraan pembangunan, sehingga secara perlahan tidak ada lagi kesenjangan.

Ia yakin Munas bertema “Revitalisasi Organisasi Menuju Fungsi Lembaga Konservasi Berstandar”, sangat cocok guna mendorong pelaku konservasi. Khususnya konservasi di ex-situ agar dapat bergandengan tangan, kompak, solid, saling membantu dan saling mendukung.

“Tema itu menjawab tantangan zaman, sehingga seluruh anggota bersama PKBSI dapat tumbuh selaras sejalan dalam menyiapkan sumber daya manusia guna mencapai cita-cita memiliki lembaga konservasi dengan standar yang sama” ujar pemilik Museum Satwa Liar terbesar di Asia, Rahmat International Wildlife Museum & Gallery di Kota Medan.

Kerjasama

Disebutkan, sebagai upaya meningkatkan kualitas organisasi demi majunya pengelolaan LK di Indonesia, PKBSI telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, institusi dalam negeri maupun luar negeri. Antara lain: Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, IUCN untuk GSMP (Global Spesies Management Plan), JAZA (Japanese Association of Zoos and Aquariums) untuk riset dan penelitian, Feldman Ecopark Ukraina untuk fundrising serta kerjasama antar-negara. Saat ini PKBSI sedang menjajaki kerjasama dengan Wadi Asafa Wildlife Center di Dubai.

PKBSI secara berkala juga mengikuti berbagai kegiatan di tingkat internasional antara lain SEAZA Conference, JAZA Conference dan EAZA  Conference.

Berbagai training dan workshop yang diadakan di tingkat regional maupun internasional juga diikuti PKBSI secara aktif, seperti: Guideline for SEAZA Spesies Coordinator and Studbook Keeper, program SPARK oleh WRS (Wildlife Reserves Singapore), Training Animal Welfare Auditor oleh SEAZA dan Zoo Educator yang diadakan oleh Chester Zoo, CPSG (Conservation Planing Specialist Grup) oleh IUCN.

“Dengan berbagai upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh PKBSI tersebut, tentu tujuaannya semata-mata demi majunya LK di Indonesia,” ucap Rahmat.

Ia mengharapkan dapat dibangun kebun binatang/taman satwa di berbagai provinsi/kabupaten/kotamadya yang baik dan berkualitas. Dikelola oleh pemerintah maupun swasta sebagai wahana konservasi, penelitian, edukasi dan sebagai tempat hiburan layak, sehat, mendidik dan terjangkau. Tentu saja  bagi semua kalangan masyarakat. Bahkan diharapkan dapat mencegah tawuran/perkelahian antar-pelajar maupun antar masyarakat, serta dapat mengurangi ketegangan di mana-mana.

Dengan multi fungsi dan multi efek yang demikian, ia menentang bila lahan  kebun binatang dialihfungsikan menjadi mall, plaza atau pemukiman mewah yang hanya menguntungkan segelintir orang atau kelompok saja.

Ia memohon dukungan semua pihak untuk majunya organisasi dan tercapainya cita-cita mewujudkan LK yang baik dan bermutu serta dapat mengharumkan nama bangsa dan negara di mata dunia.

Munas dilaksanakan setiap lima tahun ini menjadi ajang yang ditunggu oleh seluruh anggota PKBSI. Agenda utamya memilih ketua umum yang baru untuk periode masa bakti lima tahun ke depan. Munas juga merupakan moment penting, mempertemukan para pimpinan lembaga konservasi/kebun binatang/taman satwa bersama para pemangku kepentingan guna saling berbagi pengetahuan, pengalaman serta berbagi infromasi penting yang saling menguntungkan.

Munas kali ini diadakan pada 25-28 November 2018, dihadiri oleh perwakilan dari IUCN (International Union for Conservation of Nature), SEAZA (South East Asian Zoo Association), WRS (Wildlife Reserve Singapore), ZSL (Zoological Sociaty of London), Chester Zoo-Inggris, Audubon Zoo-Amerika. Termasuk HKS Desainer and Konsultan International Company yang akan memberi pengetahuan dan membahas bersama hal penting dalam pengelolaan LK yaitu tentang “Collection Plan and Zoo Design” dan “Exibhit and Enclosure Design”.

Hasil Munas kali ini mengamanahkan posisi Ketua Umum PKBSI kepada DR. H. Rahmat Shah yang telah membentuk tim formatur untuk menyusun kepengurusan PKBSI dalam waktu 1 bulan setelah berakhirnya Munas. Semoga kepengurusan yang baru dapat mengemban amanah yang pasti akan lebih berat dari sebelumnya sesuai perkembangan zaman.  (Humas PKBSI)
Indonesia Zoo & Aquarium Association
RSS Feed