Back
AKREDITASI, TANGGA MENUJU PROFESIONALISME
Author Susi
Friday, Mar 23, 2012 8:39 am
AKREDITASI, TANGGA MENUJU PROFESIONALISME

 
Bagi orang awam, kebun binatang yang terbaik identik dengan luas, megah dengan fasilitas yang mewah, rupanya pendapat ini tidak sepenuhnya benar menurut para pakar.
 
Dua dekade terakhir, pertumbuhan kebun binatang di Indonesia sungguh pesat dengan ragam bentuk dan spesies, di sisi peraturan perundangan pun berkembang dari segi teknis secara dinamis. Kementrian Kehutanan mengelompokkan berbagai bentuk kebun binatang sebagai Lembaga Konservasi yang diarahkan dikelola secara profesional dan mandiri dengan menetapkan parameter penilaian pada akreditasi. Sebagai pemangku kewenangan pengelolaan satwa liar di Indonesia, Direktorat Jenderal PHKA, melakukan pembinaan kepada pemegang ijin Lembaga Konservasi (LK) agar satwa yang dikelola hidup sejahtera dan lestari. Tujuan tersebut akan tercapai apabila lembaga pengelolanya juga sehat sehingga mampu menjamin keberlanjutan usahanya, mekanisme yang digunakan untuk menilai dan mengevaluasi dengan akreditasi.
Pengelolaan satwa liar memerlukan keahlian yang spesifik sehingga berbeda dengan pola penilaian baku mutu lainnya, akreditasi pengelolaan LK dilakukan oleh sejawat, organisasi dan mereka yang memahami hakekat pengelolaan LK dalam sebuah tim atau kelompok asesor. Keputusan terkait mutu dilandasi dasar pertimbangan nalar pakar sejawat (judgments of informed experts), fakta di lapangan, dokumen pendukung serta hasil verifikasi atas data. Dengan mekanisme ini, independensi dan profesionalisme penilaian tetap terjaga.
 
Menuju pengelolaan profesional
Lembaga konservasi yang berkualitas dengan parameter yang jelas sesuai peraturan perundangan perlu diketahui publik. Dengan demikian penilaian dan pengakuan (akreditasi) bertujuan :
q   Memberikan jaminan lembaga konservasi telah memenuhi standar mutu pengelolaan satwa liar dan mendapat kepercayaan publik.
q   Senantiasa meningkatkan dan mempertahankan kualitas pengelolaan.
q   Mengelola dengan panduan standar yang dievaluasi secara internal dan tinjauan independen
q   Pengelolaan berlandaskan pada etika dan kesejahteraan satwa secara konsisten dan terus menerus
 
Toiletpun bersolek
Cakupan penilaian tidak hanya fokus pada pengelolaan satwa, namun juga mencakup kebersihan dan kelayakan fasilitas pelayanan pengunjung termasuk toilet, secara lengkap komponen penilaian meliputi a) Administrasi dan fasilitas pengelolaan b) Pengelolaan Satwa c) Kesehatan Satwa d) Fasilitas Pengunjung e) Pemberdayaan Masyarakat dan Konservasi f) Sumberdaya Manusia g) Sustainability (keberlanjutan) usaha
 
Prestasi menggembirakan
Program penilaian/akreditasi terhadap seluruh lembaga konservasi yang ada di Indonesia oleh Direktorat Jenderal PHKA Kementerian Kehutanan dilakukan secara bertahap hingga tahun 2014. Tahun 2011 telah dilakukan kepada 13 (tiga belas) lembaga konservasi anggota PKBSi dimana 3 diantaranya memperoleh nilai A yaitu : Taman Safari Indonesia, Bogor, Bali Safari and Marine Park dan Gelanggang Samudra Jaya Ancol, Jakarta. sementara 10 lainnya memperoleh nilai B yaitu : Bali Bird Park, Seaworld Indonesia Jakarta,  KRKB Gembira Loka Yogyakarta, Elephant Safari Park Taro Bali, Taman Margasatwa Ragunan Jakarta, Kebun Binatang Tamansari Bandung, Jatim Park, ”Rahmat” Museum and Gallery Medan, Maharani Zoo Lamongan dan Taman Hewan Pematang Siantar. Suatu kebanggaan bagi warga PKBSI dimana sertifikat tersebut langsung diserahkan oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan di Hotel Menara Penninsula, Jakarta, 22 Desember 2011.

    
Selamat kepada 13 anggota PKBSI yang telah dinilai dan menerima sertifikat dengan prestasi yang menggembirakan, semoga prestasi ini diikuti oleh anggota yang lain. 

sumber : EBU
foto   : PKBSI

Indonesia Zoo & Aquarium Association
RSS Feed